Proses Pembuatan Batu Bata Merah
Daftar Isi
Batu bata merah termasuk materi bangunan yang lazim dipakai dalam proses membuatan hunian atau rumah tinggal serta bangunan. Histori pengaplikasian batu bata ternyata telah memiliki usia yang sangat lama yakni ribuan tahun yang lalu. Langkah pembuatan batu merah itu sendiri ternyata tidak begitu mengalami transformasi sampai dewasa ini.
Batu bata merah dewasa ini dalam proses pembuatannya tidak sekadar melakukan pencetakan tanah, mengeringkan, dan membakarnya. Namun lebih dari itu, dibutuhkan juga perbandingan bahan yang sesuai dan alat operasional layaknya mesin cetak agar terbentuk bata dengan mutu yang selaras dengan yang dihendaki. Berikut ini tahapan proses pembuatan batu bata merah antara lain.
- Proses menggali bahan mentah layaknya tanah liat atau lempung, untuk ukuran industri kecil memanfaatkan tenaga manusia dan ukuran skala besar lazimnya memanfaatkan perlengkapan gali.
- Bahan baku lalu dibawa dengan mengaplikasikan alat angkut atau lazimnya dengan mekanisme yang tradisional tentunya pembuatan pabrik bata (lio) tidak jauh dengan sumber bahan baku.
- Proses mencampur bahan lainnya, layaknya pasir halus atau bahan yang memiliki karakteristik penyemenan lainnya. Dengan mekanisme tradisional bahan layaknya lempung yang sudah dilakukan penghancuran dan dimasukkan ke dalam sumur untuk direndam sampai jangka waktu 1 hingga 2 hari atau lebih dengan air yang banyak agar bisa dengan mudah dilakukan pencampuran kembali dan dicetak, lalu dibentangkan tentunya dengan ketebalan maksimal 20 cm. jika tanah liat membutuhkan materi pengurus seperti semen merah ataupun pasir, tentunya bahan tersebut dihamburkan diatas amparan tanah liat yang masih basah. Masa tanah liat itu sendiri lalu diinjak-injak dengan menggunakan kaki atau dicangkul sampai rata. Mekanisme ini dikenal sebagai tempering. Jika di dalam tanah liat terdapat banyak kerikil, tentunya tanah liat yang diulet mesti dilakukan penggilingan lagi.
- Proses mencetak dikerjakan dengan menggunakan cetakan kayu. Supaya tanah liat tidak rekat pada wadah cetakan, tentunya wadah cetakan diulas dengan semen merah atau pasir kali. Batu bata merah yang sudah dilakukan pencetakan diletakkan pada penampang papan yang dapat menampung 8 sampai 10 buah batu bata merah. Jika proses mengulet dikerjakan dengan menggunakan mesin, tentunya pada ujung mesin bisa dilakukan pemasangan mulut sebagai cetakan batu bata merah. Dari mulut akan keluar kolom masa tanah liat yang memiliki bentuk paralel epipedum. Kolom itu sendiri dipotong-potong sebanding dengan skala atau ukuran batu bata merah dengan mengaplikasikan kawat pemotong.
- Proses mengeringkan dikerjakan sesudah pencetakan. Lazimnya dikerjakan dengan mekanisme alami tentunya bergantung pada bantuan sinar matahari. Pembakaran dikerjakan dengan menggunakan tungku konvensional maupun tungku modern. Durasi waktu proses dalam membakarnya tergantung temperatur pembakaran. Lazimnya pemanasan pendahuluan dengan temperatur 0 sampai 120 derajat celcius selama 2 hingga 3 jam, lalu dilakukan penaikan temperatur sampai 600 derajat celsius dengan kurun waktu 2 – 3 jam hingga 800 derajat celcius kemudian dalam durasi waktu 2 -3 jam temperatur pemanasan dinaikkan hingg 1020 derajat celsius. Temperatur dalam proses membakar batu bata merah dipertahankan hingga proses membakar tersebut dinyatakan rampung. Api dapat dimatikan, lalu tungku didinginkan. Sesudah 5 sampai 6 hari batu bata merah dapat dilakukan pembongkaran dari tungku yang bersangkutan.
- Mutu batu bata merah ditentukan dan dipilih menurut hasil pembakaran dari bagus sampai dengan kurang bagus. Dinilai bagus bila batu bata memiliki corak merah. Adapun kurang bagus bila batu bata memiliki corak hitam. Corak hitam dalam pembakaran yang terlalu banyak, bila batu bata sebagian memiliki corak abu-abu, proses membakar batu bata tidak sempurna atau masih belum selesai diolah.
Demikian penjelasan proses pembuatan batu bata merah. Semoga bermanfaat untuk semua yang membaca postingan ini.
Referensi:
Mulyono, Tri. 2021. Bahan Bangunan dan Konstruksi. Stiletto Indie Book. Yogyakarta.
