Gangguan Belajar: Pengertian, Macam-Macam, dan Cara Mengatasi

Daftar Isi
Gangguan belajar merupakan kondisi yang membuat seseorang kesulitan dalam menerima, menyimpan, atau menyampaikan informasi. Cara otak mengolah informasi pada individu dengan gangguan ini berbeda dengan yang lain, terlepas dari kecerdasan dan usahanya.
 

Setiap anak dengan gangguan belajar membutuhkan program pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Semakin dini bantuan diberikan, semakin besar kemungkinan individu dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi kesulitan belajarnya.

A. Pengertian Gangguan Belajar

Berikut ini beberapa pengertian gangguan belajar menurut para ahli antara lain.
  • Menurut Kirk, gangguan belajar adalah kondisi di mana kemampuan akademik seseorang tidak sebanding dengan potensi intelektualnya.
  • Menurut Lerner, gangguan belajar adalah kondisi di mana seseorang mengalami perbedaan signifikan dalam kemampuan akademik tertentu, seperti membaca, menulis, atau memahami konsep matematika.
  • Menurut Hallahan dan Kauffman, gangguan belajar adalah perbedaan dalam cara otak memproses informasi yang menyebabkan kesulitan dalam mencapai potensi akademik.
  • Menurut Reid Lyon, gangguan belajar adalah perbedaan dalam fungsi otak yang menyebabkan kesulitan dalam memperoleh dan menggunakan informasi.
  • Menurut Hammill dan Bartel, gangguan belajar adalah hambatan dalam perkembangan kognitif yang mempengaruhi kemampuan belajar.
 

B. Macam-Macam Gangguan Belajar

Berikut ini macam-macam gangguan belajar yang perlu diketahui antara lain.

1. Dyslexia (Disleksia)

Disleksia merupakan gangguan yang memengaruhi kemampuan otak dalam memproses informasi bahasa secara efektif. Anak dengan disleksia sering kesulitan membaca dengan lancar dan memahami arti kata. Walaupun memiliki potensi yang baik, anak dengan disleksia membutuhkan pendekatan pembelajaran yang berbeda untuk memahami materi pelajaran.

Sejumlah hambatan dalam memahami bahasa menjadi ciri khas disleksia, seperti kesulitan dalam mengurai kata-kata.  Meskipun sering disalahpahami, disleksia berbeda dengan gangguan penglihatan. Perlu diketahui bahwa disleksia adalah kesulitan spesifik dalam membaca dan menulis.

2. Dyscalculia (Diskalkulia)

Diskalkulia merupakan gangguan yang memengaruhi kemampuan kognitif seseorang dalam memproses informasi numerik. Konsep-konsep matematika seringkali menjadi tantangan besar bagi orang dengan diskalkulia. Orang tersebut mungkin mengalami kesulitan dalam memahami urutan langkah-langkah yang diperlukan dalam menyelesaikan soal matematika. Diskalkulia dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, seperti pengelolaan keuangan, perencanaan waktu, dan pemahaman konsep spasial.

3. Dysgraphia (Disgrafia)

Disgrafia merupakan suatu gangguan belajar spesifik yang membuat seseorang mengalami kesulitan dalam menulis. Hal ini dapat menyebabkan tulisan yang sulit dibaca, tata bahasa yang kurang tepat, atau struktur kalimat yang membingungkan. Anak yang mengalami disgrafia seringkali menulis dengan sangat lambat dan mengalami kesulitan dalam membentuk huruf dengan baik. Koordinasi mata-tangan yang kurang baik membuat anak tersebut sulit dalam menyalin atau meniru bentuk huruf. Disgrafia dapat menghambat kemampuan peserta didik untuk mengungkapkan pikiran dan ide melalui tulisan.

4. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD merupakan gangguan yang membuat seseorang sulit berkonsentrasi, sering gelisah, dan sulit menjaga perhatian dalam waktu yang lama. ADHD membuat seseorang sulit untuk mengatur aktivitas dan perilaku sehingga seringkali mengganggu orang lain. Lingkungan belajar yang menuntut kesabaran dan fokus dapat menjadi sangat sulit bagi individu dengan gangguan ini. Individu dengan ADHD seringkali memerlukan dukungan tambahan untuk mengatasi tantangan yang terkait dengan gangguan ini.

5. Auditory Processing Disorder (APD)

APD merupakan gangguan pendengaran sentral yang menyebabkan kesulitan dalam memahami bahasa lisan. Gangguan ini bukan pada pendengaran fisik, tetapi pada cara otak menginterpretasikan sinyal suara. APD membuat individu kesulitan memproses informasi yang disampaikan dalam tempo yang singkat. Tak hanya itu, keterbatasan dalam membedakan bunyi dapat menghambat pembentukan hubungan antara suara dan simbol grafem.

6. Nonverbal Learning Disorder (NVLD)

NVLD merupakan suatu kondisi di mana individu mengalami kesulitan dalam keterampilan yang melibatkan penglihatan, ruang, dan gerakan, meskipun kemampuan bahasanya baik. Memahami isyarat non-verbal seperti ekspresi wajah dan bahasa tubuh menjadi tantangan bagi individu dengan NVLD. Selain itu, individu dengan kondisi ini sering kali mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas yang memerlukan koordinasi mata-tangan yang baik.


7. Specific Learning Disability (SLD)

SLD merupakan kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan dalam satu atau lebih aspek pembelajaran, seperti membaca, menulis, atau berhitung. Kondisi ini sering teridentifikasi ketika seseorang mengalami hambatan serius dalam bidang akademik tertentu, sekalipun memiliki kemampuan intelektual yang baik. Gangguan ini mengharuskan adanya pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.

C. Cara Mengatasi Gangguan Belajar

Berikut ini beberapa cara dalam mengatasi gangguan belajar antara lain.

1. Identifikasi Dini

Langkah awal dalam mengatasi gangguan belajar adalah dengan mengidentifikasi masalah sedini mungkin. Kesulitan membaca, menulis, atau berhitung yang tidak sesuai dengan usia menjadi petunjuk awal adanya gangguan belajar. Tes standar juga merupakan bagian penting dalam mengidentifikasi jenis kesulitan belajar yang dialami seseorang. Pengetahuan yang jelas tentang gangguan belajar akan memudahkan dalam memilih pendekatan yang tepat.

2. Pendekatan Pendidikan yang Efektif

Pendekatan pendidikan yang efektif harus mampu mengakomodasi perbedaan individu dengan gangguan belajar. Adanya Rencana Pendidikan Individual (RPI) atau Individualized Education Plan (IEP) menjamin setiap individu dengan kebutuhan khusus menerima pendidikan yang sesuai. RPI memiliki tujuan untuk menyesuaikan kurikulum, menyediakan alat bantu belajar, dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Pendekatan ini meningkatkan efektivitas pembelajaran dengan cara yang lebih personal.

3. Penyesuaian Metode Pengajaran

Penyesuaian metode pengajaran dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan oleh gangguan belajar. Adapun metode pembelajaran yang beragam dapat menghasilkan hasil belajar yang lebih optimal. Misalnya, dalam pembelajaran tentang sains, siswa dapat melakukan eksperimen sederhana untuk mengamati fenomena alam. Selain membuat belajar lebih menyenangkan, teknologi juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.

4. Terapi Khusus

Individu dengan gangguan belajar seringkali mendapat manfaat dari terapi khusus seperti terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi wicara. Terapi okupasi membantu individu mengembangkan keterampilan tangan yang diperlukan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk menulis. Terapi wicara dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan. Sedangkan, terapi perilaku dapat membantu individu mengelola kebiasaan yang menghambat kemajuannya. Kerjasama tim yang solid sangat penting untuk keberhasilan program terapi ini.

5. Dukungan Emosional dan Psikologis

Gangguan belajar dapat menyebabkan kesulitan dalam bersosialisasi dan menjalin hubungan dengan orang lain. Maka karena itu, dukungan emosional dan psikologis sangatlah penting. Bantuan profesional dapat membantu individu mengatasi emosi negatif dan membangun kepercayaan diri. Di samping itu, lingkungan sekitar perlu menciptakan suasana yang aman dan nyaman untuk mendukung pertumbuhan individu.

6. Kerja Sama antara Pihak Sekolah dan Keluarga

Pentingnya kerja sama antara pihak sekolah dan keluarga dalam mengatasi gangguan belajar tidak bisa dipungkiri. Perlu adanya pengawasan bersama terhadap kemajuan belajar peserta didik. Di sisi lain, pertemuan berkala juga berfungsi untuk mengevaluasi efektivitas metode pembelajaran yang telah diterapkan. Kerja sama yang solid akan mendukung pertumbuhan peserta didik secara menyeluruh.

7. Peningkatan Kapasitas Pendidik dan Orang Tua

Peningkatan kapasitas pendidik dan orang tua sangat penting untuk memahami maupun mengatasi berbagai gangguan belajar. Program pengembangan profesional bagi pendidik harus mencakup modul tentang identifikasi gangguan belajar. Selain pendidik, orang tua juga memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan peserta didik. Pemahaman yang sama antara pendidik dan orang tua akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi perkembangan peserta didik.

8. Penyesuaian Lingkungan Belajar

Lingkungan belajar yang tepat dapat memaksimalkan potensi belajar setiap individu. Menciptakan lingkungan belajar yang minim gangguan dan menyediakan tempat duduk yang sesuai dapat memberikan manfaat. Penyesuaian ini bertujuan untuk memfasilitasi pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan gaya belajar individu.

9. Dukungan Emosional dan Motivasi

Dukungan emosional dan motivasi yang berkelanjutan sangat penting dalam membantu peserta didik mengatasi gangguan belajar. Memberikan penghargaan atas usaha yang telah dilakukan akan memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, perlu memberikan apresiasi yang tulus dan menetapkan target yang realistis. Dengan begitu, peserta didik akan merasa dihargai dan terdorong untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.

10. Pengawasan dan Evaluasi

Mengatasi gangguan belajar adalah proses yang kompleks yang membutuhkan pengawasan yang konsisten dan evaluasi yang berkelanjutan. Pengawasan terkait perkembangan peserta didik secara berkala, baik melalui tes formal maupun pengamatan, sangat penting untuk mengukur efektivitas program yang diterapkan. Selain itu, penundaan dalam melakukan penyesuaian dapat berdampak negatif pada hasil akhir. Dengan pengawasan yang konsisten, dapat dipastikan bahwa peserta didik terus berada pada jalur yang tepat dalam mencapai tujuan belajarnya.

Demikian penjelasan tentang gangguan belajar: pengertian, macam-macam, dan cara mengatasi. Semoga bermanfaat untuk semua yang membaca postingan ini.

Referensi:
 
Widyorini, Endang., Tiel, Julia Maria van. 2017. Disleksia Deteksi Diagnosis Penanganan di Sekolah dan di Rumah. Prenada. Jakarta.