Mengungkap Sejarah dan Makna Bubur Asyura: Hidangan Khas 10 Muharram
Daftar Isi
Sebagai makanan yang tersaji dengan aneka rasa dan struktur bahan, Bubur Asyura sangat disukai oleh banyak kelompok Muslim secara global. Lebih dari sekadar aroma rempah, kacang, dan buah kering, makanan ini mengandung sejarah, adat, dan nilai agama yang punya ragam versi berdasarkan tempat dan mazhab. Sesungguhnya, Bubur Asyura merupakan representasi kebersamaan, alat penting untuk mengingat sejarah, dan sekaligus bentuk syukur atas kekayaan budaya Muslim yang terwujud di hari ke-10 Muharram.
Berdasarkan riwayat masa lalu, istilah Asyura ini berakar dari bahasa Arab “Ashura”, yang secara jelas mengandung arti hari kesepuluh. Hari kesepuluh bulan Muharram di Kalender Hijriyah dipandang sebagai waktu yang sangat utama dalam praktik keagamaan. Kaum Sunni mengenang hari ini sebagai waktu Nabi Musa a.s. bersama Bani Israil lolos dari kekuasaan Firaun, sebuah kesempatan untuk bersyukur dan berpuasa sunnah yang ditetapkan Nabi Muhammad SAW. Dalam pandangan Syiah, tanggal 10 Muharram terkait erat dengan insiden Karbala dan gugurnya Husain bin Ali, hal ini menjadikan hari itu sebagai waktu berkabung, evaluasi diri, dan pelaksanaan upacara penghormatan atas darah yang tertumpah. Makanan Asyura tersedia dalam berbagai kebiasaan yang tidak harus sama dengan ajaran teologis, sajian ini sering menjadi perwakilan antara sejarah agama dan adat yang mengakar di masyarakat umum.
Sumber cerita tentang Bubur Asyura tidaklah hanya satu macam, melainkan meliputi berbagai kisah dan tradisi yang berbeda. Sebagian Asia Tengah dan Turki mengenal sajian “aÅŸure” atau “puding Nuh”, yang berdasarkan cerita disajikan oleh Nabi Nuh (Noah) pada waktu bencana air telah mengering. Cerita mengatakan bahwa setelah air berlalu, sisa bahan makanan yang ada di kapal dipadukan menjadi satu bubur, momen ini menggambarkan rasa syukur atas keselamatan dan berkah rezeki yang diberikan. Makanan dari Turki ini terbuat dari gabungan gandum, aneka kacang, biji-bijian, buah-buahan kering, serta rempah, dan dihidangkan manis yang diperindah oleh buah maupun kacang. Kisah-kisah mirip hadir dalam tradisi Balkan dan Levant, hal ini memperjelas migrasi budaya dan adanya pertukaran makanan lewat jalur perdagangan dan perluasan Islam.
Di Indonesia, Bubur Asyura melalui proses penyelerasan dengan tradisi setempat, membuat rasanya berbeda jauh dari gaya yang umum dijumpai di Turki. Bubur ini menggunakan beras atau ketan, santan, gula pasir atau gula merah, kacang hijau, kacang kedelai, pisang, ubi, jagung, serta kadang kala rempah seperti kayu manis sebagai pelengkap. Memasak bubur ini banyak melibatkan sekelompok warga yang datang untuk mengolah dalam jumlah besar, berbagi tradisi resep keluarga, serta menyuguhkannya tanpa dipungut biaya kepada warga sekitar dan tamu. Aktivitas kebersamaan ini menguatkan aspek sosial Bubur Asyura sebagai media mengakrabkan hubungan warga, menciptakan sikap peduli, sekaligus melaksanakan amanah kepada pihak yang kesulitan finansial.
Arti penting yang terkandung dalam setiap unsur pembentuk bubur Asyura juga biasa disoroti sebagai bagian dari tradisi berharga. Campuran banyak komponen ditafsirkan sebagai analogi keragaman, yang menggambarkan bahwa bermacam-macam suku, keyakinan, dan status ekonomi bisa bersatu dalam satu kesatuan yang serasi. Bahan-bahan buah kering dan kacang mengandung nilai rezeki serta keteguhan, sedangkan manisan atau gula melukiskan manisnya pembebasan dari kesulitan atau tumbuhnya cita-cita setelah bencana. Terkait peringatan Karbala, sekelompok orang mengubah proses memasak dan pembagian bubur menjadi perayaan damai yang menggeser tindakan serupa yang lebih keras, sekaligus menyampaikan nilai belas kasih dan ketulusan hati.
Secara sosial, makanan Bubur Asyura memiliki peran utama sebagai sarana membangun semangat kekeluargaan dan persaudaraan yang erat. Pendistribusian bubur kepada fakir miskin, janda, dan kaum lanjut usia menjadi tujuan utama di banyak desa dan kota, membuat kebiasaan ini menunjukkan penerapan nilai zakat dan sedekah secara langsung. Perlu dicatat, memasak bubur dalam skala besar turut menguatkan hubungan sosial antar usia, resep disampaikan dari nenek ke cucu, kisah sejarah diungkapkan saat mengaduk, dan prosedur penyajian merefleksikan nilai-nilai budaya di sana. Kegiatan ini pun berfungsi sebagai bentuk pengajaran tidak resmi yang menanamkan nilai-nilai persaudaraan, sifat sederhana, dan kesadaran akan tugas sosial.
Bubur Asyura menjadi semakin istimewa karena adanya perbedaan bentuk di berbagai lokasi dengan ciri khas masing-masing. Contohnya di Aceh, bubur ini cenderung menonjolkan khas Melayu melalui penambahan santan dan pemanis yang berasal dari gula aren. Adapun Bubur Asyura yang dibuat di Betawi biasanya melibatkan pemanfaatan ketan dan buah pisang sebagai ciri pembeda dari daerah lain. Lain halnya dengan masyarakat Minang di Sumatra Barat, di mana rempah-rempah dan metode memasak yang bersifat daerah dapat menentukan ciri rasa serta kekentalan buburnya. Tak hanya itu, bubur Asyura di perkotaan modern mengalami perkembangan dengan hadirnya gagasan terbaru seperti penggunaan kacang yang spesial, pemanis alami pengganti gula, dan disajikan dalam porsi kecil untuk acara-acara penting.
Saat ini, ada persoalan yaitu urbanisasi dan perubahan pola hidup menyebabkan berkurangnya pelaksanaan beberapa aktivitas gotong royong di masyarakat. Kendati demikian, makna Bubur Asyura masih kuat berkat inisiatif yang dilakukan oleh perkumpulan masjid, lembaga kemasyarakatan, dan platform digital yang memublikasikan acara penyerahan makanan. Kebiasaan ini turut memiliki peran penting dalam perbincangan lintas agama, sebagai simbol kebaikan hati, sebab sebagian warga non-Muslim diikutsertakan dan diberi bubur untuk menguatkan persahabatan.
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah Bubur Asyura mencerminkan banyak aspek sosial dan spiritual yang melebihi sebuah santapan. Hidangan ini menjadi perwujudan sejarah, cerita lama, dan tindakan kemasyarakatan yang berfungsi untuk mengabadikan kejadian besar dalam ajaran Islam, serta menjunjung tinggi pluralitas serta kebersamaan warga. Di setiap porsi yang diberikan, ada pesan untuk mengenang peristiwa sedih, mengucapkan syukur atas perlindungan, dan mewujudkan kasih sayang kepada sesama, hal tersebut berlaku kapan pun dan di mana pun.
Referensi:
Dikutip dari berbagai sumber.
