Hikayat: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Jenis

Daftar Isi
Hikayat merupakan cerminan budaya masa lampau yang disajikan dalam wujud prosa dan telah hadir sejak masa klasik, serta disampaikan secara berkelanjutan dari mulut ke mulut atau dalam bentuk catatan tertulis. Isi karya ini biasa menampilkan tokoh-tokoh yang memiliki derajat istimewa dalam masyarakat dan kehebatan khusus, seperti pemimpin kerajaan, pejuang, keturunan bangsawan, atau orang yang memiliki kesaktian hebat.
 

Prosa lama ini tidak terbatas pada penyampaian kisah yang kaya akan fiksi dan misteri, tetapi mengutarakan pandangan hidup, kaidah sosial, serta nilai-nilai budaya masyarakat di masa lampau. Adapun bahasa yang ada pada hikayat cenderung indah dan memiliki banyak majas (metaforis), aspek ini memberikan karakteristik sastra klasik yang bernuansa estetis dan berlimpah nilai-nilai kiasan.

A. Pengertian Hikayat

Berikut ini beberapa pengertian hikayat menurut para ahli antara lain.
  • Menurut R. O. Winstedt, hikayat adalah bagian dari sastra Melayu klasik yang digunakan untuk mengarsipkan dan mengungkapkan cerita-cerita tradisional, mitos, legenda, dan catatan mengenai tokoh-tokoh berpengaruh di lingkungannya.
  • Menurut A. Teeuw, hikayat adalah jenis sastra yang muncul dan meluas dalam tradisi lisan masyarakat Melayu, dan selanjutnya dibentuk menjadi tulisan sebagai upaya melestarikan cerita-cerita lama tersebut.
  • Menurut C.C. Brown, hikayat adalah prosa lama Melayu yang berisikan kisah tentang pahlawan, raja, dan tokoh-tokoh terkemuka, cerita ini dihadirkan melalui rangkaian kejadian yang tidak nyata dan penuh keajaiban.
  • Menurut H.D. Noordenbos, hikayat adalah prosa Melayu yang mengandung cerita, dengan fokus utama pada legenda dan kisah-kisah heroik, dan dilestarikan dengan cara menyalin ulang dokumen secara berkala.
  • Menurut W.G. Shellabear, hikayat adalah salah satu sastra lama yang merefleksikan kehidupan sosial maupun kondisi batin (spiritual) masyarakat Melayu, dengan penyajian melalui narasi yang banyak mengandung fiksi dan unsur-unsur menakjubkan.

B. Ciri-Ciri Hikayat

Berikut ini beberapa ciri-ciri dari hikayat antara lain.

1. Bahasanya Bersifat Klasik dan Berbunga-bunga

Ciri utama sastra ini adalah bahasa Melayu klasik yang dipenuhi oleh kalimat berseni, analogi, serta ragam bahasa yang istimewa. Struktur kalimat dalam hikayat cenderung bertele-tele dan memuat pengulangan, gaya bahasa tersebut tidak lagi lazim dipakai dalam percakapan atau tulisan masa kini. Penggunaan kata-kata yang sangat estetis ini bertujuan untuk menghadirkan nuansa agung, sakral, maupun mulia, dan berfungsi menggerakkan imajinasi siapa pun yang menikmatinya. Dengan demikian, bahasa dalam karya ini tidak sekadar alat untuk membagikan seluruh isi cerita, namun sekaligus menjadi wadah yang menampilkan keindahan dalam dunia sastra.

2. Mengandung Unsur Kemustahilan dan Keajaiban

Salah satu ciri terpenting hikayat adalah kemustahilan, peristiwa-peristiwa yang tidak terjangkau oleh pikiran dan bertentangan dengan kaidah logika. Hal-hal ajaib, meliputi tokoh yang sangat sakti, makhluk supranatural, benda keramat, hingga kejadian yang di luar nalar, mendominasi susunan cerita dalam hikayat. Unsur kemagisan ini menunjukkan kepercayaan komunitas terdahulu pada dunia spiritual dan juga menjadi alat untuk menjelaskan norma-norma, wibawa, dan kemuliaan sang tokoh utama melalui makna tersembunyi.

3. Berpusat pada Tokoh Utama yang Luar Biasa

Hikayat selalu menampilkan tokoh utama yang merupakan pahlawan atau figur hebat, keistimewaan itu terlihat pada asal-usul, kesaktiannya, intelektualnya, dan sikap moral yang dijunjung tinggi. Tokoh dalam kisah kerap kali dilukiskan sebagai sosok yang sempurna atau ideal, keadaan ini mendorong timbulnya kekaguman dan penghormatan yang besar. Dengan berpusat pada sosok utama, penceritaan ini membuka jalan bagi publik untuk mencontoh sifat-sifat heroik atau kepemimpinan yang perlu diikuti dalam budaya tempat tinggalnya.

4. Berkaitan dengan Lingkungan Kerajaan

Ciri lain dari hikayat adalah kedekatannya yang kuat dengan aktivitas di dalam istana atau wilayah kerajaan, yang menghiasi semua latar ceritanya. Sebagian besar hikayat memuat kisah tentang para pemimpin kerajaan, calon pewaris takhta, golongan bangsawan, atau kekuatan besar, yang berlatar di wilayah kepulauan (Nusantara) dan juga di berbagai belahan dunia. Kisah-kisah di dalam hikayat menggambarkan tatanan masyarakat pada periode tersebut, di mana wibawa dan otoritas kerajaan berperan sangat penting bagi kehidupan komunitas. Maka dari itu, prosa ini sering menyajikan keindahan istana, pembagian jabatan kerajaan, serta kebiasaan-kebiasaan resmi di istana yang dipenuhi oleh kiasan dan nilai estetika tinggi.

5. Mengandung Nilai-Nilai Moral, Religi, dan Filosofis

Hikayat bukan hanya dibuat dengan tujuan hiburan, melainkan juga memiliki tujuan murni untuk mengedukasi nilai-nilai akhlak dan ajaran keyakinan. Sebagian besar hikayat memberikan contoh tentang kebajikan, sikap setia, keberanian, kemantapan hati, serta kepatuhan terhadap aturan yang berlaku di masyarakat dan ajaran agama. Di samping itu, sejumlah karya sastra ini mengandung pandangan filosofis yang mendalam, yang meliputi hubungan manusia dengan Sang Pencipta, takdir, dan hakikat hidup. Nilai-nilai ini memberikan gambaran bahwa hikayat merupakan produk dari tradisi bercerita yang membawa berbagai pesan moral dan edukatif bagi generasi masa depan.

6. Memiliki Pola Cerita Berulang dan Struktur yang Tidak Rumit

Karya sastra ini sering menampilkan struktur kisah yang mengulang-ulang kejadian, percakapan, atau deskripsi di sepanjang jalan cerita. Proses pengulangan dalam cerita berfungsi membantu audiens memahami alur kisah secara menyeluruh, kemudahan ini diperlukan karena hikayat dituturkan dari mulut ke mulut. Di samping itu, rangkaian cerita hikayat dibuat simpel dan teratur, dimulai dengan pengenalan sosok utama, berlanjut pada munculnya pertentangan, dan diakhiri dengan solusi yang membahagiakan. Sifat struktur yang simpel ini memberi kemudahan bagi hikayat untuk dilanjutkan dari satu keturunan kepada keturunan berikutnya.

7. Anonim atau Tidak Diketahui Pengarangnya

Mayoritas hikayat dibuat oleh penulis anonim, dengan kata lain, pencipta dari karya-karya sastra ini tidak terungkap secara jelas. Peristiwa ini terjadi lantaran hikayat berkembang melalui cerita lisan yang dilanjutkan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebelum dicantumkan dalam tulisan. Maka dari itu, cerita lama ini lebih diakui sebagai kepemilikan kolektif masyarakat, dan bukanlah karya pribadi seorang penulis. Selain itu, ketiadaan nama penulis menambah bobot hikayat sebagai bagian dari kebudayaan bersama, yang merepresentasikan identitas suatu komunitas secara keseluruhan.

C. Jenis Hikayat

Berikut ini beberapa jenis dari hikayat antara lain.

1. Hikayat Panji

Hikayat Panji adalah jenis cerita lama yang bermula dari kisah kepahlawanan Panji di Jawa, yang kemudian tersebar dan menjadi populer di seluruh kawasan Melayu. Sebagian besar cerita ini mengisahkan perjuangan pangeran atau kesatria bernama Panji (misalnya Panji Inu Kertapati), yang pergi jauh dengan tujuan menemukan, membebaskan, atau bersatu lagi dengan kekasihnya. Latar kerajaan Jawa kuno menjadi ciri utama Cerita Panji, kisah ini dihiasi suasana cinta, petualangan seru, penyamaran tokoh, dan peperangan besar. Pengaruh karya ini sangat luas, versi-versi kisah Panji tersebar ke Malaysia, Thailand, Kamboja, bahkan negara tetangga seperti Myanmar.

2. Hikayat Nabi-Nabi

Hikayat Nabi-Nabi adalah sastra tradisional yang membahas sejarah para nabi dalam agama Islam, dan memiliki tujuan mengedukasi moral serta nilai-nilai yang bersifat religius. Cerita-cerita ini secara luas memaparkan riwayat nabi, keistimewaan yang dianugerahkan, serta perjuangan tak kenal lelah saat membawa kabar dari Sang Pencipta. Karya-karya yang paling populer dalam jenis ini antara lain Hikayat Nabi Muhammad, Hikayat Nabi Yusuf, dan Hikayat Nabi Adam, semuanya dikenal luas oleh masyarakat. Karya sastra bertema agama ini ditujukan tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga untuk memberikan ajaran moral dan media dakwah yang sangat efisien selama penyebaran ajaran Islam di wilayah Nusantara.

3. Hikayat Berunsur Sejarah

Hikayat berunsur sejarah adalah karya sastra yang dasarnya dari kejadian nyata atau tokoh di masa lalu, dengan kombinasi unsur legenda dan fantasi pada narasinya. Jenis cerita ini sering mengangkat tokoh penting, seperti raja, pahlawan, atau pemimpin kerajaan, akibatnya jalan ceritanya bernuansa kepahlawanan dan dipenuhi oleh rasa kagum. Karya sastra yang paling diminati dalam jenis ini antara lain Hikayat Raja-raja Pasai dan Hikayat Sultan Ibrahim, keduanya dikenal luas oleh para peneliti. Kendati tidak semua ceritanya berdasarkan fakta sejarah, hikayat-hikayat ini sangat berharga sebagai sumber pemahaman budaya, tradisi kepemimpinan, dan nilai-nilai masyarakat di masa lalu.

4. Hikayat Agama

Hikayat agama adalah narasi yang membahas ajaran perilaku baik dan nilai-nilai kerohanian, yang didasarkan pada kisah-kisah panutan dalam tradisi Islam.  Narasi ini sering menampilkan contoh perilaku mulia, keistimewaan yang dimiliki para wali, dan perjuangan tokoh-tokoh agama dalam menyiarkan ajaran yang baik. Contoh yang dapat dimasukkan ke dalam jenis Hikayat agama ini antara lain Hikayat Hasan dan Husain dan Hikayat Syiah, keduanya memiliki nilai-nilai spiritual. Kisah-kisah dalam cerita agama ini dibuat untuk mengajarkan nilai-nilai kepercayaan, ketahanan hati, dan ketaatan beragama, yang diharapkan menjadi panduan hidup bagi semua pembaca.

5. Hikayat Romantis

Hikayat romantis adalah prosa lama yang berisi cerita asmara yang rumit, dan mengandung pertentangan dari pihak keluarga, kerajaan, atau komunitas sosial. Prosa romantis ini memuat berbagai unsur yang menyentuh, misalnya perdebatan, cobaan cinta, tindakan pengorbanan, hingga pertemuan kembali pasangan kekasih di penghujung cerita. Karya sastra yang banyak diminati dalam jenis ini antara lain Hikayat Indera Bangsawan dan Hikayat Si Miskin, dua judul ini memiliki daya tarik yang kuat. Hikayat romantis banyak disukai karena mencampurkan unsur asmara dengan petualangan, kejadian sedih, dan keajaiban, gabungan tersebut menambah kekuatan emosional pada alur cerita.

6. Hikayat Fantasi atau Mitos

Hikayat fantasi adalah prosa lama yang mengandung elemen gaib, makhluk halus, dan kekuatan sakti yang hebat, kisah ini menggambarkan alam yang tidak rasional. Prosa fantasi ini memuat tokoh yang mempunyai kekuatan luar biasa, kerajaan di dimensi lain, atau benda ajaib yang dapat mengubah kehidupan manusia. Contoh yang mewakili jenis cerita fantasi ini antara lain Hikayat Malim Deman dan Hikayat Sang Boma, keduanya sangat populer di kalangan pembaca. Hikayat fantasi sering digunakan untuk menguraikan simbol budaya dan nilai-nilai yang tersimpan, proses penyampaian ini terjadi melalui elemen-elemen gaib di dalamnya.

7. Hikayat Petualangan

Hikayat petualangan memiliki inti cerita pada perjalanan jauh seorang tokoh untuk mengatasi rintangan, pertempuran, dan masalah yang sangat seru menarik menarik. Figur yang menjadi sorotan seringkali disajikan sebagai individu yang gagah dan berwibawa tinggi, perjalanan hidup tokoh-tokoh tersebut menjelaskan keberanian, kesetiaan, serta kehormatan. Hikayat Amir Hamzah menjadi contoh terbaik untuk jenis hikayat petualangan, ceritanya memiliki nilai sejarah dan daya tarik yang kuat. Prosa petualangan ini menunjukkan latar dunia yang begitu luas dan penuh rintangan, dengan demikian tersaji gambaran epik tentang perlawanan tokoh utama.

8. Hikayat Jenaka

Hikayat jenaka adalah cerita yang disusun dengan tujuan menghibur masyarakat melalui humor, sindiran tajam, dan unsur-unsur kelucuan yang mudah dicerna. Tokoh-tokoh dalam cerita ini biasanya digambarkan cerdik, licik, atau lugu sekali, namun selalu dapat mengatasi kesulitan dengan tindakan yang konyol dan tak terduga. Karya-karya yang dikenal dalam prosa jenaka ini mencakup Hikayat Si Luncai serta Hikayat Pak Belalang, dua kisah ini sangat populer di kalangan masyarakat. Di balik kelucuan yang disajikan, hikayat jenaka juga memuat sindiran sosial yang tak langsung kepada perilaku masyarakat, tokoh pemimpin, atau tatanan sosial yang berlaku.

Referensi:

Dikutip dari berbagai sumber.