Inilah Sejarah Wayang: Kronologi Perkembangan Wayang dari Masa ke Masa

Daftar Isi
Karya seni Wayang adalah bukti nyata dari kekayaan tradisi Indonesia yang mendalam, sebab keberadaannya sudah diakui dan terawat baik semenjak zaman dahulu kala. Karena bentuknya yang berisi petunjuk dan kisah yang sarat nilai-nilai kebaikan, Wayang menampilkan pertunjukan yang mencakup seni peran, sastra, musik, dan ilmu kebijaksanaan, menjadikannya aset budaya yang teramat berharga. Adapun perjalanan sejarah panjang yang menjadi latar belakang kesenian Wayang dari awal hingga zaman modern harus dipelajari, supaya nilai-nilai yang tersimpan di dalamnya dapat dipahami secara saksama dan menyeluruh.

Akar Sejarah Wayang pada Masa Pra-Hindu

Perkiraan paling mendasar mengenai Wayang mengacu pada kultur kepercayaan animisme dan dinamisme masyarakat Nusantara sebelum adanya unsur-unsur kebudayaan India. Komunikasi spiritual dengan roh leluhur terlaksana melalui upacara yang dilakukan masyarakat di masa ini, dengan mengandalkan boneka atau bayangan sebagai perantara utama dalam prosesi tersebut. Penggunaan boneka yang dibuat dari dedaunan, kayu, atau kulit binatang ditujukan untuk serangkaian kegiatan tertentu, terutama yang terkait dengan peristiwa-peristiwa penting dalam siklus hidup, dari kelahiran sampai kematian.
 
 
Praktik pemakaian boneka dan berbagai simbol tersebut telah menjadi landasan dasar yang kuat bagi tradisi pewayangan, sekalipun belum menampilkan susunan cerita yang jelas seperti Wayang zaman sekarang. Walaupun sudah menyatu dengan budaya lain, kesenian Wayang terbukti memiliki nilai spiritual yang tinggi, karena unsur kesakralan yang terkandung di dalamnya sangat besar dan tidak mudah hilang.

Perkembangan Wayang pada Masa Pengaruh Hindu-Buddha

Perubahan besar terjadi di dunia seni pertunjukan setelah kebudayaan India masuk ke Nusantara, dan kehadiran budaya baru ini menyebabkan perkembangan dalam kesenian Wayang.  Kisah-kisah legendaris Ramayana dan Mahabharata mulai digunakan sejak periode ini, dan diterapkan sebagai sumber cerita yang paling sering dipertunjukkan dalam pementasan Wayang. Di lain sisi, kisah Wayang tidak diterima begitu saja, tetapi melewati pengolahan kreatif yang mendalam, yang berujung pada penyelarasan tokoh, alur, dan latar agar sesuai dengan budaya lokal.

Di masa ini pula kelengkapan utama dalam pementasan Wayang menjadi lengkap, terdiri dari dalang, gamelan, serta klasifikasi tokoh yang dibuat mengikuti moral dan watak masing-masing karakter. Bentuk-bentuk kesenian Wayang menjadi semakin bervariasi, dengan munculnya cikal bakal Wayang Kulit yang meluas dan berkembang pesat di daerah Jawa. Bahan kulit digunakan karena sifatnya yang lebih awet dan memberikan kemudahan dalam menciptakan hiasan-hiasan visual yang kompleks pada tokoh Wayang. Perpaduan yang terjadi antara spiritualitas asli dengan kisah Hindu yang megah menempatkan kesenian ini sebagai media pencerahan, selain perannya sebagai bentuk seni untuk hiburan.

Wayang pada Masa Kerajaan-Kerajaan Jawa Klasik

Masa Majapahit dan kerajaan-kerajaan Jawa setelahnya dikenal sebagai periode perkembangan yang cepat yang dialami oleh kesenian Wayang secara menyeluruh. Kesenian ini tidak hanya menjadi media yang berhubungan dengan kepercayaan dan agama pada periode tersebut, tetapi juga dipergunakan secara efektif sebagai sarana untuk mempertahankan otoritas politik. Untuk meningkatkan citra kekuasaan sekaligus memberi pesan moral kepada rakyat banyak, penguasa kerajaan menggunakan Wayang sebagai sarana komunikasi yang sangat efektif.

Perubahan-perubahan besar terjadi, ditandai dengan penyempurnaan tokoh punakawan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, tokoh asli Jawa tersebut bukanlah bagian dari tradisi Wayang yang datang dari India. Tokoh-tokoh ini memiliki nilai penting karena mampu menghubungkan konsep mitologi yang abstrak dengan permasalahan dan realitas kehidupan yang dijalani oleh masyarakat. Kritik terhadap masalah sosial diungkapkan melalui figur-figur ini, yang juga memiliki tugas untuk mengatur dan menyesuaikan keseimbangan emosi di dalam alur pertunjukan seni.

Pada masa ini pula ditetapkan susunan alur cerita pertunjukan secara standar, meliputi pembagian babak menjadi jejer, perang, dan penutup kisah (penyelesaian). Perlu diketahui, telah dilakukan pembakuan terhadap gaya bahasa, suluk, dan tutur dalang dalam kesenian ini, hal ini menciptakan standar estetika yang menjadi pedoman pertunjukan sampai saat ini.

Wayang pada Masa Islamisasi Jawa

Perubahan yang menarik dan baru terjadi di dalam seni pewayangan sebagai akibat langsung dari masuknya ajaran dan budaya Islam ke wilayah Nusantara. Ulama-ulama Islam, dengan Sunan Kalijaga sebagai tokoh utama, menggunakan Wayang sebagai alat komunikasi, hal ini dilakukan demi menyebarkan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat luas. Secara cerdas, para ulama melakukan strategi dakwah dengan menjaga bentuk kesenian ini, namun mengubah alur cerita dengan memasukkan nilai-nilai agama Islam di setiap bagian.

Untuk mengurangi bentuk figuratif yang dilarang oleh sebagian tafsir Islam, muncul inovasi penting berupa Wayang Golek dan Wayang Kulit dengan ornamen yang jauh lebih bersifat simbolis. Sebagai wujud dari akulturasi budaya, berbagai kisah baru seperti Jimāt, Serat Menak, dan riwayat hidup para wali mulai dimasukkan ke dalam pertunjukan pewayangan pada masa itu. Tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan setempat, metode dakwah ini sungguh sangat efektif untuk menyebarkan ajaran Islam secara luas kepada masyarakat di pulau Jawa.

Masa Kolonial dan Perubahan Identitas Pewayangan

Pada periode ini, Wayang dipilih sebagai ruang aman untuk melakukan perlawanan terhadap pihak penjajah, di mana perjuangan itu diekspresikan melalui simbol-simbol kebudayaan. Sejumlah dalang menggunakan kiasan dan metafora dalam cerita pertunjukan untuk mengkritik penjajah, sehingga kecaman yang keras terhadap pemerintahan kolonial dapat disuarakan kepada rakyat. Di sisi lain, pemerintah kolonial Belanda menaruh perhatian terhadap kesenian Wayang, lalu mengambil tindakan untuk mempelajarinya secara rinci dan membuat catatan dokumentasi sejarah. Pengaruh ini turut mendorong berkembangnya penelitian secara akademis terhadap wayang, bersamaan dengan itu juga memunculkan penafsiran baru yang terkadang tidak sesuai dengan pemahaman masyarakat setempat.

Di masa ini, pertunjukan Wayang mulai disajikan untuk khalayak ramai tanpa terkait dengan tujuan upacara atau kegiatan keagamaan tertentu yang sudah ada. Perubahan terjadi di mana kesenian ini secara perlahan menjadi hiburan publik serta pertunjukan kerajaan, dan selalu dihargai karena memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Upaya penting untuk menetapkan aturan muncul di era tersebut, meliputi penetapan bentuk tokoh Wayang serta penulisan cerita lakon yang dilakukan dengan cara yang lebih tersusun.

Wayang pada Era Modern dan Globalisasi

Abad ke-20 sampai sekarang merupakan periode di mana Wayang mengalami perbaikan dan perkembangan yang sangat besar dalam berbagai aspek seni pertunjukan. Adapun kreasi wayang baru diperkenalkan kepada publik, mulai dari wayang kaca, wayang klithik, wayang wahyu, hingga wayang kontemporer, di mana bentuk terakhir ini menyatukan unsur digital dari teknologi terkini dalam seni pertunjukan. Tak hanya itu, Cerita mengenai isu sosial, lingkungan, dan politik dibawa ke permukaan oleh para seniman, menjadikannya sebagai bagian dari kisah-kisah baru yang lebih relevan dengan zaman.

Posisi kesenian ini sebagai warisan budaya dunia menjadi lebih kuat dengan adanya pengakuan dari UNESCO, yang memberikannya gelar Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Selain itu, pementasan Wayang sudah meluas dari wilayah pedesaan ke panggung internasional di seluruh dunia, sebab seni ini diakui memiliki nilai dan filosofi yang sangat berharga untuk dipelajari.

Penutup

Sejak menjadi media spiritual di masa pra-Hindu sampai berhasil menjadi simbol budaya dunia, kesenian ini telah membuktikan bahwa perjalanan sejarahnya sangat panjang dan beragam. Masing-masing periode telah memberikan kontribusi besar yang memperluas bentuk, makna, dan kegunaan Wayang sehingga warisan budaya ini terus berkembang dan tidak pernah statis. Wayang bukan hanya peninggalan sejarah, melainkan cerminan identitas bangsa yang terus hidup dan relevan, hal ini ditunjukkan oleh keberlanjutannya sebagai seni pertunjukan hingga sekarang.

Referensi:

Dikutip dari berbagai sumber.