Perjalanan Panjang Seni Bela Diri Korea: Sejarah Taekwondo dan Perkembangannya
Daftar Isi
Berasal dari negara Korea, Taekwondo telah tumbuh menjadi metode pertarungan yang diakui secara global, sehingga menjadikannya jenis olahraga bela diri yang paling digandrungi di banyak negara. Gerakannya yang cepat dan lincah bukan satu-satunya hal penting, sebab di dalamnya juga terkandung nilai-nilai kesopanan, filosofi kehidupan, dan pentingnya membentuk kedisiplinan diri yang kokoh. Lahir dari masa lalu yang panjang, Taekwondo mengalami perkembangan dari metode bela diri lama di Korea menjadi sebuah cabang olahraga bergengsi yang ditampilkan dalam ajang internasional, seperti Olimpiade. Perkembangan seni bela diri ini dalam sejarahnya yang panjang telah menciptakan perubahan besar, baik pada aspek tekniknya, pengaturan organisasinya, maupun keberadaannya yang kini dikenal secara global.
Taekwondo pertama kali muncul dan berkembang di wilayah Semenanjung Korea saat berdirinya Goguryeo, Silla, dan Baekje, yang sejarahnya dimulai dari waktu sekitar seratus tahun sebelum Masehi. Seni bela diri seperti Taekkyon dan Subak hadir pada periode tersebut, dan penggunaannya mencakup kebutuhan pertempuran serta untuk kegiatan pelatihan kesiapan prajurit. Artefak visual berupa gambar dinding di makam Goguryeo menjadi bukti adanya pose yang persis dengan teknik pukulan dan tendangan yang dipelajari dalam seni bela diri Taekwondo. Kala itu, pelatihan seni bela diri tidak hanya dipakai sebagai pelindung diri, tetapi juga bertujuan untuk membentuk kebugaran, melatih kelincahan, dan menanamkan kepatuhan pada setiap serdadu.
Pada saat Kerajaan Silla berdiri, seni bela diri diatur secara lebih baik dan terkelola melalui kelompok pemuda andal yang populer dengan nama Hwarang. Kelompok ini mendapat pengakuan karena selalu menyatukan kegiatan fisik dan keterampilan bertempur dengan pengajaran moralitas yang meliputi kesetiaan, keberanian, dan martabat. Gagasan Hwarang menjadi salah satu landasan etika dalam Taekwondo modern, yang mengajarkan pentingnya rasa hormat, kemampuan mengontrol diri, dan integritas. Dasar etika dan filosofis pada masa itu sangat berperan penting dalam mewujudkan karakter seni bela diri Korea selanjutnya, meskipun tekniknya masih belum memiliki standar yang tetap.
Latihan bela diri di era Joseon mengalami perubahan karena budaya pada saat itu lebih memprioritaskan seni dan kesusastraan. Walaupun budaya bergeser, buku panduan tentara Muye Dobo Tongji yang tersedia pada abad ke-18 memuat catatan tentang seni bela diri lama, termasuk gerakan tendangan yang kini identik dengan Taekwondo. Kegiatan bela diri pada periode tersebut terus dijaga dan dipraktikkan, terutama oleh para tentara serta beberapa orang yang berasal dari rakyat jelata. Di tengah masuknya budaya luar, praktik bela diri dari daerah setempat mampu bertahan dan berproses secara wajar.
Korea mengalami perubahan besar di awal abad ke-20, yang disebabkan oleh masuknya masa pendudukan kekaisaran Jepang. Pada periode ini, kegiatan bela diri setempat tidak diperbolehkan, sementara ilmu bela diri dari Jepang (misalnya Karate dan Judo) justru mulai menyebar. Sekalipun kondisi ini merugikan kemajuan bela diri Korea, metode-metode dari luar itu juga memberikan andil dalam pembentukan Taekwondo masa kini. Adapun kemerdekaan Korea pada tahun 1945 memberi jalan bagi para ahli untuk mengombinasikan teknik asli yang dibangkitkan kembali dengan keterampilan yang didapat selama pendudukan Jepang. Berbagai kwon, contohnya Chung Do Kwan, Song Moo Kwan, dan Moo Duk Kwan, didirikan oleh para ahli tersebut dan kelak menjadi sekolah-sekolah Taekwondo di era modern.
Demi menyatukan berbagai gaya bela diri yang berkembang, para ahli, pendidik, dan pemimpin militer Korea memutuskan pada tahun 1955 untuk menggunakan nama Taekwondo. Penamaan ini diambil untuk menggambarkan jati diri Korea, terdiri dari Tae yang artinya kaki atau tendangan, Kwon yang artinya tangan atau pukulan, dan Do yang artinya jalan atau prinsip kehidupan. Pemberian nama ini menjadi dasar yang kuat dalam memastikan bahwa Taekwondo memiliki ciri khas sebagai seni bela diri yang asli dari Korea.
Ketenaran Taekwondo mulai meluas dan mendapatkan sorotan secara global, terutama sejak tahun 1960-an dan tahun-tahun berikutnya. Korea Selatan melakukan upaya penyebaran seni bela diri ini dengan mengutus tenaga pengajar ke seluruh penjuru dunia. Untuk mengatur standar teknik, pertandingan, dan promosi Taekwondo secara mendunia, World Taekwondo Federation (WTF), sekarang World Taekwondo (WT), didirikan pada tahun 1973. Kejuaraan Dunia Taekwondo yang perdana terlaksana di Seoul bersamaan dengan tahun diresmikannya badan pengatur olahraga ini. Karena adanya dorongan penyebaran dari kemajuan tersebut, Taekwondo berhasil menempati posisi sebagai salah satu bela diri yang paling banyak peminatnya di seluruh dunia.
Taekwondo mendapat pengakuan dunia yang lebih besar setelah disajikan sebagai cabang olahraga peragaan di Olimpiade Seoul 1988 dan Olimpiade Barcelona 1992. Selanjutnya, pada Olimpiade Sydney tahun 2000, Taekwondo disahkan sebagai cabang olahraga utama yang dipertandingkan. Status Olimpiade ini menegaskan pengesahan Taekwondo secara global sebagai olahraga kompetitif, dan menyoroti keseimbangan penggabungan antara ajaran tradisional dan modern. Demi memastikan Taekwondo tetap sesuai dan tidak membahayakan peserta dari berbagai umur, teknik, aturan main, dan sistem penilaian terus disempurnakan.
Dewasa ini, Taekwondo tidak hanya dipandang sebagai metode pertarungan, tetapi juga berperan sebagai media pembentukan watak dan pengembangan diri. Seni bela diri ini digunakan oleh banyak negara di dunia untuk berbagai program, mulai dari pelajaran sekolah, latihan militer, hingga program kebugaran. Di samping itu, standar sabuk, program pembelajaran, dan penelitian senantiasa ditingkatkan oleh organisasi seperti Kukkiwon dan WT demi menjaga perkembangan olahraga ini tetap serasi dengan kemajuan zaman.
Perjalanan panjang Taekwondo dari seni bela diri khas Korea menuju olahraga dunia menunjukkan peran penting budaya, ajaran, dan inovasi dalam memperkenalkan tradisi ke mancanegara. Bagi siapa pun yang mempelajarinya, seni bela diri ini dengan nilai dasarnya yang kuat dan teknik yang dinamis akan terus mewakili kekuatan fisik dan kedewasaan mental, serta mewarisi budaya Korea di kancah dunia.
Referensi:
Dikutip dari berbagai sumber.
